BACAAN NIAT Puasa Syawal 6 Hari & Bolehkah Tidak Berturut-turut?

Posted on

Assalamu alaikum wr wb..

Baru saja kita melewati bulan penuh perjuangan yaitu bulan suci ramadhan Tahun 2020 M 1441 H. Meskipun ramdahan kali ini berbeda ramadhan lainnya, yah tentu kalian sudah dong bahwa bulan ramadhan kali ini 1441 H kita hidup berdampingan dengan wabah yang menjadi pandemic global yaitu covid 19, tpi ini bukan sebuah alasan untuk mengurangi ketaqwaan kita sebagai ummat islam.

Setelah bulan ramadhan berlalu, maka akan masuk bulan syawal. Dan dalam islam ada 2 Jenis Puasa :

  1. Perintah wajib berpuasa berlaku sepanjang ramadhan selama 29 atau 30 hari.
  2. Puasa Sunnah :

Puasa sunnah  dapat dikerjakan umat Islam sepanjang tahun. termasuk puasa Syawal selama 6 hari, Puasa Arafah pada 9 Zulhijah, Puasa Asyura pada 10 Muharam, dan puasa Senin-Kamis.

Hukum mengerjakan Puasa Syawal adalah sunah. Diriwayatkan dari jalur Abu Ayyub Al Anshory, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa 6 hari pada bulan Syawal, maka dia bagai berpuasa setahun penuh.” (H.R. Muslim)

Kapan Puasa Syawal Dikerjakan

Puasa Syawal dapat dikerjakan dengan dua cara. Yang pertama, adalah menunaikan puasa selama 6 hari berturut-turut, terutama pada awal bulan, misalnya pada 2 hingga 7 Syawal/ Langkah kedua, menjalankan puasa dengan cara terpisah-pisah, misalnya setelah tanggal 3 Syawal, kemudian melakukannya lagi pada 7, 11, 15, 20, dan 23 Syawal hingga genap 6 hari.

Terkait cara pertama, yaitu mengerjakan Puasa Syawal dalam 6 hari beruntun, inilah yang dianjurkan oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain. Dikutip dari artikel “Hukum Puasa Syawal dan Waktu Pelaksanaannya” oleh Alhafiz Kurniawan dalam laman NU Online, Syekh Nawawi al-Bantani menuliskan, “menjalankan puasa (6 hari pada bulan Syawal) secara berturut-turut lebih utama.

Meskipun demikian, jika puasa syawal dikerjakan secara terpisah, bukanlah masalah. Ditekankan pula oleh Imam Nawawi al-Bantani, “Keutamaan sunah puasa Syawal sudah diraih dengan menjalankan puasa tersebut secara terpisah dari hari Idulfitri”.

Jadi tidak ada masalah mau puasa 6 hari berturut turut atau terpisah, Hanya, yang utama tetaplah cara pertama.

Terkait puasa Syawal, ada pula kemungkinan lain bahwa orang mengerjakan puasa sunah ini sembari mengqadha utang puasa Ramadannya. Dalam hal ini, sebaiknya pengerjaan kedua jenis puasa tersebut dipisahkan karena pada dasarnya merupakan amalan berbeda.

Selain itu, jika ada seseorang yang hendak mengerjakan puasa Syawal dan puasa qadha, maka yang lebih baik dalam pandangan Mazhab Syafi’i dalah mendahulukan puasa qadha. Artinya, seorang muslim terlebih dahulu membayar utang puasa wajibnya, kemudian baru mengerjakan puasa sunah.

Apabila terjadi kendala karena jumlah hari yang diqadha banyak, sedangkan puasa Syawal ada 6 hari, maka tetap yang utama dikerjakan pada Syawal adalah puasa qadha, dengan niat puasa qadha, tidak dengan niat menggabungkan puasa tersebut dengan puasa syawal.

Bacaan Niat Puasa Syawal

Jika seseorang sudah berniat puasa Syawal sejak malam harinya, lafal niat yang dapat diucapkan adalah seperti di bawah ini.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Jika ada seseorang yang pada malam sebelumnya tidak berniat puasa Syawal, kemudian pada pagi atau siang harinya terbersit keinginan berpuasa Syawal, lafal niat yang diucapkan adalah seperti di bawah ini. نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT.”

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published.